Topics :

Latest Post

Sejarah Palembang

Written By Unknown on Rabu, 30 Mei 2012 | 02.42


Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan yang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Palembang juga merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat kota Palembang. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682 ini, pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua (kota) di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Sehingga jika menurut prasasti tersebut, Palembang adalah kota tertua di Indonesia.

Nenek moyang orang-orang kota ini menamakan Palembang yang jika diartikan secara harafiah dalam bahasa Melayu Pa/Pe adalah kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah, akar yang membengkak karena terendam air (menurut kamus bahasa Melayu). Menurut bahasa Melayu Palembang sendiri lembang/lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air. Tidaklah heran sebab secara topografi Palembang terdapat 52% lebih daerah rawa-rawa dan sungai. Di dunia barat sendiri Palembang disebut sebagai Venice of Asia.
Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:
  • Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan.
  • Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
  • Daerah pesisir timur laut.
Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengan. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggallah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke Semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya.Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pemimpin mereka.Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran jika toko sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak laut ini. Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah menangkap toko bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung ditengah pasar ibukota. Namun beberapa toko bajak laut di lautan cina seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang yang disegani di Palembang. Chiang Lien sebagai pengawas perdagangan untuk cina. sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang Cina di Palembang hampir 200 tahun. (disadur dari berbagai sumber)

Sejarah Pempek dan Cara Membuatnya


Konon berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun abad ke-16 ada seorang lelaki asal Cina berusia 65 tahun tinggal di daerah Perakitan (rumah terapung) di tepian Sungai Musi. Orang Melayu biasa memanggil semua lelaki keturunan Cina dengan sebutan ‘Apek’. Nah si Apek satu ini merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung sagu/kanji, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para Apek dengan memikulnya keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Terkait dengan benar atau  tidaknya sejarah tersebut, saat ini malah sulit melekatkan pempek sebagai kuliner khas Palembang saja karena semua daerah kabupaten di sekitar Palembang bahkan sampai ke beberapa daerah Jambi, Lampung dan Bengkulu juga menjadikan makanan ini sebagai jajanan khasnya. Terlepas dari itu, tidak ada salahnya kita pelajari cara membuat dan mencoba mempraktekkannya di rumah.

Bahan:1 Cangkir (1 bagian) Ikan Belida jika tidak ada dapat diganti dengan Ikan Gabus atau Ikan Tenggiri Giling, mengingat Ikan Belida sudah sangat langka.
1 Cangkir (1 bagian) Air putih
Garam secukupnya
2 sdm minyak goreng
Tepung kanji secukupnya
Saus Cuko:1 kg gula merah yang bagus,potong-potong
cabai rawit sesuai selera
200 g bawang putih
3 sdm cuka putih/air asam/air jeruk nipis
garam secukupnya
2 liter air Cara Membuat:
 Campur ikan giling dengan air dan garam hingga benar-benar larut dan cukup asinnya.
  1. Tambahkan tepung kanji secukupnya sampai adonan bisa diuleni (banyak sedikit tepung kanji tergantung pada kekenyalan yang diinginkan). Jika suka yang kenyal bisa dipakai lebih banyak.
  2. Adonan pempek siap dibentuk sesuai selera. Untuk pempek kapal selam, ambil adonan secukupnya, bentuk seperti mangkuk, isi dengan telur ayam mentah lalu rekatkan agar tidak bocor.
  3. Rebus dalam air mendidih dengan api sedang hingga mengapung. Angkat, tiriskan. Masukkan dalam air dingin.
  4. Untuk pempek lenjer, bentuk adonan seperti silinder dan rebus sampai mengambang kemudian angkat dan masukkian dalam air dingin.
  5. Untuk adaan, ambil adonan secukupnya, tambahkan sedikit bawang goreng atau daun bawang iris seta telur, aduk rata. Bentuk adonan menjadi bola-bola dan goreng dalam minyak panas dengan api kecil hingga mengapung dan matang.
  6. Saus Cuka:
    Masak gula merah bersama air secukupnya hingga larut.
    Haluskan bawnag putih dan cabai rawit lalu tambahkan ke dalam rebusan gula dan didihkan.
    Masukkan cuka dan garam. Rebus dengan api kecil selama 1 jam hingga agak kental. Angkat dan saring.
    Sajikan bersama pempek dengan ebi yang dihaluskan.
Catatan:
Pilih ikan yang segar dan ambil dagingnya lalu haluskan hingga serabut-serabut putih dari dagingnya terangkat. Untuk resep tradisional ini, ukur daging ikan halus dalam wadah atau mangkuk. Kemudian tambahkan air sebanyak ukuran daging ikannya (misal, jika setengah mangkuk ikannya, air yang dipakai setengah mangkuk juga).
Jumlah tepung kanji yang dipakai disesuaikan dengan tingkat kekenyalan pempek yang diinginkan. Makin banyak kanji akan makin kenyal atau keras.
Secara tradisional pempek disajikan tanpa mi kuning.


Kelakar Betok

Pada sebuah warung sayuran, perempuan Palembang berbelanja. Dia menyebutkan apa yang hendak dia beli dalam jumlah serba sedikit. Kangkung hanya seikat, minyak sayur hanya satu sloki, dan 3 ikan asin kecil.
Ketika ditanya kenapa belanja kangkung cuma sekebat, sang perempuan menyimbat, “Ai, kangkung nih bukan untuk disayur. Biasolah, Mang Cik kau baru miaro kelinci.
Nak makan kangkung nian. Dak galak makan rumput biaso.”
Mengenai ikan asin kecil yang juga hanya sedikit, hanyalah untuk memberi pakan kucing. Tentang minyak sayur yang hanya setakar kecil, “Mang Cik kau masuk angin! Minta kerik!”


Anekdot di atas hanya salah satu anekdot popular di Palembang. Tradisi berkelakar demikian kental di aliran Musi. Dimana-mana gampang ditemui orang berkelakar. Masyarakat Palembang yang saya kenal adalah masyarakat pengelakar. Di sana pertama kali saya dengar istilah “pakar”. Pacak Bekelakar. Pacak artinya bisa. Atau, utak-atik saja dari pacak menjadi cakap. Dari cakap yang artinya pandai ke cakap yang artinya bual. Bukan bual dalam arti sekarang yang dipakai untuk sebut “omong besar”. Omong besar bukan bual. Itu, ngawak!

Kelakar adalah seni. Salah satunya fungsinya, ikhtiar menertawai diri sendiri. Anekdot di atas adalah cerminan masyarakat Palembang menertawakan fenomena langguk yang tumbuh sebagai stereotip sebagian masyarakatnya. Kelakar adalah seni guyon yang tumbuh macam jamur di musim hujan. Ia mirip tak kenal kelas. Tumbuh dan hidup pada segala strata. Tumbuh di rumah-rumah rakit, sampai sisa-sisa kejayaan rumah limas. Kelakar bahkan tumbuh di rawa-rawa Palembang yang dahulunya memenuhi 2/3 Palembang.
Seni kelakar tingkat tertinggi dijuluki “kelakar betok”. Betok (Anabas testudineus) adalah sejenis ikan perairan tawar, paling gampang tertemui di rawa. Sisiknya gelap keemasan-kehijauan, dagingnya padat, siripnya acap lebih mirip duri yang bisa melukai meski tak berbisa. Ikan ini bisa memanjat ke daratan untuk berpindah dari satu cekungan ke cekungan rawa lainnya. Karenanya, dalam bahasa Inggris betok didapuk dengan nama climbing gouramy.

Kelakar betok… isinya bisa dianggap bual angin. Lambas-melambas dari satu wacana ke wacana lain, dari satu tema ke tema lain. Pengelakar betok mirip tertuntut tahu banyak tentang apa saja. Ngulu-ngilir, ngalor-ngidul. Melintas sana-sini. Menyebrang sisi-sisi.

Kenapa tradisi ini muncul? Tanya pengelana yang kebetulan tandang menikmati lantun riak air Musi. Saya tak punya referensi apapun selain kecurigaan. Kecurigaan pertama, lahir sebagai otokritik terhadap fenomena sosial yang tumbuh di Palembang. Kecurigaan kedua, lahir sebagai cara untuk melenturkan penat pikiran di kehidupan keras masyarakat Palembang.

Supaya mudah, saya kira tradisi ini memiliki ruh yang sama dengan seni bergurau di ranah lain. Misal, seni gurau masyarakat Betawi seperti yang tertampil dalam Lenong, tradisi ngabodor di Sunda, gurau ndobos di masyarakat Yogyakarta, atau seni parikan yang sering nyelip dalam pementasan ludruk Jawa Timur-an.
Apa pun, semoga tradisi kelakar betok tetap lestari meski habitat betok, rawa, terancam penimbunan. Penimbunan yang telah mematikan sekitar 100-an kanal (sungai) pada Palembang yang berjuluk Venesia dari Timur ini. Penimbunan yang dinamai proyek reklamasi. Padahal cuma kelakar betok untuk menyamarkan semangat aslinya, de-rewa-isasi. (Asal tulisan http://dusunlaman.net/2010/02/tradisi-kelakar-betok-masyarakat-palembang/)Muhammad Hujairinhttps://profiles.google.com/1137605967944572050242012-05-27T02:49:31.338-07:00Ape Ngah Tentra???Mang Uju lagi ke Plembang untuk meli baju di Pasar 16 ilir, dari Maskerebet naek Bis kota ke Pasar 16. Biarpun Bis lah penuh dengan segalo macem bentuk rupo wong tapi segalo wong nyetopdi jalan diambik keneknyo disempel-sempelke dalam bis.Tibo-tibo Mang Uju meraso ado yang nginjak kakinyo, diliatnyo yang nginjak itu wong tinggi besak, rambut cepak, Mang Uju ngeri jugo nak marah, dia dengan sopan nanyo ke wong itu
Mang Uju : Misi pak, ape ngah ikak tentra?
Wong itu: bukan…
Mang Uju : Ape ngah ikak Plisi?
Wong itu: bukan..???%(?
Mang Uju : Ape ngah ikak Satpam?
Wong itu: ???? bukan
Mang Uju : Ape.. ngah ikak Hansip..???
Wong itu: bukan???
Mang Uju: KALU NGAH IKAK BUKAN TENTRA, BUKAN PLISI, BUKAN SATPAM, BUKAN HANSIP, NGAPE NGAH IKAK NGINJAK KAKI KU!!!??&?!!!!!!!

Kambang Iwak

Foto ini saya ambil tadi pagi saat melintas di KIF Park. Memang jauh sekali tampilan KIF Park ini sekarang dibandingkan saat saya masih remaja dulu. Kondisinya jauh lebih bersih dan terawat, walaupun masih terdapat beberapa kekurangan namun masih pantas sebagai taman kota kebanggaan wong kito galo.
Di 'kambang iwak' itu memang terdapat banyak ikan dan ukurannya besar-besar, tetapi awass!!!! TIDAK BOLEH DIPANCING.


Racun Tikus Keliling Palembang

Anda yang berdomisili di Palembang tentu sering atau bahkan mungkin tidak asing lagi dengan 'mamang sikok ini' yang berkeliling kota Palembang dari bucu ke bucu, keluar masuk jalan besar hingga jalan tikus untuk menjajakan racun tikus dengan caranya yang unik. Jujur saja saya salut dengan perjuangan lelaki ini yang menghabiskan waktunya seharian penuh hari demi demi berkeliling kota Palembang untuk menjual
racun tikus. Mungkin bagi banyak orang apa yang dia lakukan tersebut sepele, hanya menjual racun tikus. Tetapi ketabahan dan kesabarannya patut diacungi jempol. Demikian juga dengan ketahanan fisiknya mendayung sepeda-gerobaknya melintasi jalan-jalan di kota Palembang. Tidak banyak orang yang mau seperti itu. dan kita pun patut bersyukur bahwa pekerjaan yang dilakoninya baik dan halal.


Mengendarai sepeda-gerobaknya yang dilengkapi dengan megaphone dan bertuliskan 'RACUN TIKUS" ia pun meneriakkan "Tikus...!!!...Tikus...!!!" sepanjang jalan yang dilintasinya. Yah Mang, mudah-mudahan kelak anak keturunanmu ada yang berjasa dalam memberantas 'tikus-tikus' berdasi di negeri ini.





Apakah di antara pembaca ada yang tahu nama dan alamat lelaki ini?


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lawang Jabo - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger